Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Sunday, June 24, 2012

Hal Hal Yang Menyebabkan Kuliah Lama Selesai

 
1. Kuliah karena terpaksa 
Melihat anaknya diwisuda adalah kebanggaan bagi setiap orang tua. Dari lubuk hati setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi seorang yang pintar dan sukses. Bahkan memaksa anaknya untuk kuliahpun bisa saja mereka lakukan.. Berawal dari sebuah keterpaksaan inilah maka ketika sudah menjadi mahasiswa, dia enggan untuk serius dalam kuliah, apalagi pengen cepat-cepat diwisuda.

2. Salah jurusan
Kalah dalam persaingan SPMB/UM PTN/PTS yang memiliki jurusan-jurusan favorit, menyebabkan banyak mahasiswa memilih jurusan lain (yang tidak diminati) sebagai pelarian ketika tidak diterima. Tujuannya adalah agar mereka tetap bisa kuliah meski jurusan itu bukan yang diminati.

3. Terlalu menikmati kebebasan karena jauh dari ortu
Anak Mami kalau kita sering sebut, terkadang juga menjadi faktor kuliah lama. Rendahnya pengawasan dari orang tua (jauh dari ortu) terkadang kebebasan itu dimanfaatkan secara berlebihan. Kerjanya maen, pacaran, begadang tiap malam, nongkrong sana-sini dan lain-lainnya.


4. Sibuk mengikuti organisasi kemahasiswaan ataupun Ormas
Tingkat Intelegency Emotional (IE) yang lebih besar daripada IQ mendorong mahasiswa untuk lebih senang berorganisasi, bersosialisasi, bertukar pikiran dan melakukan kegiatan-kegiatan atau bergabung dengan Ormas daripada belajar. Kesibukannya itu terkadang menghabiskan uang, tenaga, pikiran dan juga waktu sehingga kuliah terabaikan dan bukan prioritas lagi.

5. Menekuni hobi secara berlebihan

Soft Skill yang dimiliki mahasiswa mendorong untuk menjadi hobi. Hobi kalau dilakukan secara wajar itu baik, tapi kalau berlebihan, pasti mengganggu kegiatan lainnya. Beberapa hobi seorang mahasiswa antara lain: ngegame, ngeband, billiard, Playstation, ngenet, Futsal, dll.

6. Bisa mendapatkan uang sendiri (kerja)

Kerja terkadang dibutuhkan bagi mahasiswa, terutama yang kurang mampu ataupun untuk menambah uang saku. Tetapi tidak sedikit pula dari mereka yang terlena dengan pekerjaannya itu. Alasannya simple, ujung akhir dari kuliah adalah mendapat gelar sarjana yang bisa digunakan sebagai sarana untuk mencari kerja sehingga menghasilkan uang. kalau kuliah saja sudah bisa punya uang sendiri, kenapa harus buru-buru lulus? Makanya mereka lebih senang kerja daripada ngurusin kuliahnya.


7. Tidak adanya jaminan kerja setelah lulus
Tidak adanya jaminan inilah yang paling banyak membuat mereka lebih milih lama kuliah daripada lama nganggur.. Prinsipnya : Rezeki itu sudah ada yang ngatur, dan kalau sudah rejeki, gak bakal kemana. Jadi, buat apa cepat-cepat lulus kalau ujung-ujungnya nganggur? Yang sudah sarjana saja banyak yang nganggur kok.


 ***

Saturday, June 23, 2012

18 Nilai dalam Pendidikan Karakter Bangsa


Ada 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dibuat oleh Diknas.  Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya.
18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter menurut Diknas adalah:


1. Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9. Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10. Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

12. Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13. Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

14. Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

15. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18. Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.


Sumber: Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa, oleh Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, 2010

Friday, June 22, 2012

EFEK POLA ASUH OTORITER TERHADAP KONDISI MENTAL ANAK


             LAPORAN HASIL OBSERVASI
         DI
           DESA BIRA TIMUR SOKOBANAH SAMPANG
           MADURA




BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Keluarga adalah tempat dimana seseorang hidup bersama orang-orang terdekat dan berbagi suka-duka bersama. Keluarga memungkinkan seseorang mempunyai kehidupan yang layak jika satu sama lain antar anggota keluarga bisa saling mengerti dan memahami, berbagi kasih sayang, saling percaya dan menjadi satu batang tubuh.
Keluarga adalah lingkungan pertama yang paling berperan dalam perkembangan anak. Anak berinteraksi dengan keluarganya (ibu, ayah, saudara kakak, adik, dan lain-lain) dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga dapat dikatakan bahwa keluarga memiliki pengaruh yang besar terhadap seorang anak.
Akhir-akhir ini banyak bermunculan kasus-kasus kekerasan akibat pola asuh orangtua yang otoriter. Anak harus selalu mengikuti kemauan orangtua dan semua keputusan berada dibawah kuasa orangtua. Apabila anak tidak mengikuti aturan orangtua maka anak yang menjadi korban kekerasan. Anak akan menjadi korban kekerasan fisik dan psikis. Mental anak dipermainkan oleh orangtua apabila si anak sudah tidak bisa mengungkapkan keluh kesahnya. Anak menjadi tertekan, bahkan tak jarang ada yang sampai menjadi gila. Kekerasan fisik yang dimaksud adalah ketika si anak mencoba untuk menyampaikan keluhannya malah mendapat sambutan berupa pukulan dari orangtua karena si orangtua merasa telah ditentang dan anaknya dianggap membangkang. Padahal sebenarnya anak tersebut hanya ingin hidup normal dan sudah tidak kuat berada dalam kungkungan keluarga yang sama sekali tidak memberi kesempatan kepada dirinya untuk memberikan suatu keleluasaan.
Dalam mengembangkan anak untuk menjadi sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan persiapan dan perlakuan terhadap anak secara tepat sesuai dengan kondisi anak. Sebagai manusia, setiap anak mempunyai ciri individual yang berbeda satu dengan yang lain. Di samping itu setiap anak yang lahir di dunia ini berhak hidup dan berkembang semaksimal mungkin sesuai dengan kondisi yang dimilikinya. Untuk dapat memberi kesempatan berkembang bagi setiap anak diperlukan pola asuh yang tepat dari orangtuanya, hal ini mengingat anak adalah menjadi tanggung jawab orang tuanya baik secara fisik, psikis maupun sosial (Nuryoto, 1998).
Oleh karena itulah diperlukan adanya observasi ini untuk mengetahui secara jelas bagaimana anak yang tertindas dalam keluarganya sendiri dan efek yang ditimbulkannya.

B.     PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang diajukan adalah:
1.      Bagaimana pola asuh orang tua terhadap anak didalam keluarga?
2.      Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kekerasan terhadap anak?
3.      Bagaimana dampak kekerasan pada kondisi psikologi anak?

C.    TUJUAN
Penelitian ini bertujuan untuk:
1.      Mengetahui pola asuh orang tua terhadap anak di dalam keluarga
2.      Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kekerasan terhadap anak
3.      Mengetahui dampak kekerasan pada kondisi psikologi anak

D.    RUANG  LINGKUP
Dalam observasi yang diselenggarakan oleh kelompok kami adalah sebuah keluarga yang pola asuh orangtuanya  adalah otoriter. Kami mengobservasi tentang kesehariannya di rumah dan dampak terhadap psikologis si anak.

E.     PEMBATASAN MASALAH
Dari hasil perumusan masalah, maka yang kami batasi adalah:
1.      Faktor apa yang menyebabkan orangtua menerapkan pola asuh otoriter?
2.      Bagaimana kehidupan sehari-hari si anak dalam keluarga?
3.      Bagaimana si anak mengatasi problemnya dalam menghadapi berbagai tekanan?

F.     METODE PENELITIAN
Metode yang kami gunakan dalam observasi ini adalah:
1.      Observasi
2.      Tanya jawab/ wawancara
3.      Studi pustaka

G.    WAKTU PELAKSANAAN
Hari          : Sabtu
Tanggal    : 7 April 2012
Waktu      : 08.00 s/d selesai
Waktu
Kegiatan
…-06.00
Persiapan keberangkatan ke rumah observee di kabupaten Sampang Madura
06.15-08.00
Perjalanan menuju rumah observee
08.00-11.00
Observasi didekat rumah observee
11.00- 13.00
ISHOMA
13.05- 14.30
Wawancara
15.00- ……
Persiapan dan perjalanan pulang